top of page

Optimisme RI-Korsel di Persimpangan APEC 2025

  • Writer: Elsa Emiria Leba
    Elsa Emiria Leba
  • Oct 24, 2025
  • 4 min read

Ketika ekonomi global berjuang tumbuh, harapan bersemi menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC 2025. Amerika Serikat dan China yang berseteru akan bertemu. Negara-negara kekuatan tengah sibuk bersiasat mencari peluang kerja sama baru, termasuk Indonesia dan Korea Selatan.


Tahun 2025 menjadi tahun yang sibuk Korea Selatan. Di samping menjadi ketua MIKTA, Seoul menjadi tuan rumah perhelatan KTT APEC 2025 selama 27 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju. Para pemimpin sekaligus pebisnis dari 21 ekonomi anggota bakal berjumpa, termasuk dari AS, China, Korsel, ASEAN, dan Rusia.


”APEC 2025 berlangsung di ketidakpastian. Asia Pasifik menghadapi persaingan geopolitik, proteksionisme, dan fragmentasi rantai pasokan,” tutur Kim Chan Woo, Konsuler Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, dalam lokakarya jurnalis ”APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth”, Jakarta, Senin (13/10/2025).


Lokakarya itu merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation. Hadir pula Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Tirta Nugraha Mursitama serta peneliti ekonomi Korea Eximbank Lee Ji Hyouk.


KTT APEC 2025 mengusung tema ”Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper”. Korsel menekankan pembahasan dua agenda, yakni kerja sama di bidang akal imitasi (artificial intelligence/AI) serta penanganan perubahan struktur demografi.


Korsel hendak memanfaatkan AI untuk pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan membahas regulasi, pembangunan infrastruktur, dan pemerataan kompetensi digital. Seoul juga ingin mengatasi masalah depopulasi di Asia Pasifik lewat penguatan mobilitas manusia, inovasi layanan kesehatan, serta partisipasi ekonomi perempuan.


Di sela-sela KTT tersebut, mata dunia akan menyoroti pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Setelah beberapa kali berubah, Gedung Putih akhirnya mengonfirmasi pertemuan mereka, pekan depan.


AS-China sedang bernegosiasi sembari gencatan perang tarif. Namun, baru-baru ini Washington kembali kesal lantaran Beijing memperketat aturan ekspor logam tanah jarang. ”APEC 2025 menjadi ruang diplomasi untuk dialog dan de-eskalasi. Kami harap pertemuan itu akan memiliki hasil yang baik,” ujar Kim.


Sikap Indonesia

Tirta menyampaikan, Indonesia mendukung Korsel dalam penyelenggaraan APEC 2025. Seoul adalah jembatan bagi diplomasi negara maju dan negara berkekuatan menengah. ”Kami meyakini pertemuan APEC 2025 dapat membawa hasil yang berguna,” tuturnya.


Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Korsel Lee Jae Myung akan mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela KTT APEC 2025. Ini akan menjadi ajang pertemuan langsung perdana antara kedua kepala negara.


Setelah Korea sempat mengalami gejolak politik, Lee terpilih menjadi presiden, Juni 2025. Prabowo dan Lee baru berkomunikasi via telepon.


Secara terpisah, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Abdul Kadir Jailani dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/10/2025), menyampaikan, kehadiran Indonesia dalam pertemuan itu memiliki makna strategis. Indonesia berencana menyampaikan pandangan terhadap dua agenda APEC.


Bagi Indonesia, AI memiliki potensi besar untuk mendorong inovasi dan produktivitas. Pada saat yang sama, pengelolaan AI harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memperparah kesenjangan ekonomi. Jakarta akan menegaskan perkembangan teknologi agar selaras dengan nilai kemanusiaan, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan.


Indonesia pun menyadari perubahan demografi merupakan isu penting di Asia Timur. Sebaliknya, negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, justru sedang mengalami bonus demografi. Jakarta akan bertukar pandangan dan berbagi pengalaman untuk menghadapi tantangan perubahan demografi di masa depan.


”Sasaran lainnya adalah kami ingin memastikan APEC menghasilkan kerja sama berdampak nyata kepada masyarakat, pelaku usaha, dan dunia kerja. Kami sering melihat banyak kritik bahwa APEC tidak bersinggungan langsung dengan publik,” kata Abdul Kadir.


Seperti Korsel, Indonesia berharap agar pertemuan Trump-Xi dapat membuat hubungan kedua negara semakin baik. ”Hubungan AS-China akan berkontribusi terhadap stabilitas dan perdamaian dunia dan tentunya berdampak positif terhadap kita semua,” kata Abdul Kadir.


Hubungan Korsel-RI

Kim berharap, pertemuan bilateral antara Korsel dan RI akan memberi hasil baik mengingat kedua negara menjalin Kemitraan Strategis Khusus. Kedua negara dapat fokus pada peningkatan investasi perdagangan dan penjajakan bidang kerja sama lain, seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan ketahanan pangan.


”APEC bukan hanya soal pertemuan. Ini kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berkomitmen membangun masa depan yang berkelanjutan di area-area yang menjadi menjadi peluang baru,” ujar Kim.


Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Korsel menempati peringkat ketujuh sebagai investor asing terbesar ke Indonesia selama 2020-2024. Total investasi mencapai Rp 185 triliun. Sektor utama investasi ialah utilitas (listrik, gas, air), otomotif, serta mesin dan elektronik.


Lee Ji Hyouk menambahkan, dalam situasi yang tidak pasti, Korsel-RI adalah ”pasangan” yang cocok. Kebutuhan kedua negara pada dasarnya saling melengkapi. Seoul membutuhkan sumber daya alam, pasar, dan tenaga kerja, sedangkan Jakarta memerlukan teknologi dan modal untuk memajukan industri manufaktur.


”Sekarang saatnya untuk beralih dari kesepakatan individual ke peta jalan jangka panjang untuk kerja sama,” kata Lee.


Menurut Lee, di masa depan, transformasi digital (DX), transformasi AI (AX), dan transformasi hijau (GX) akan menjadi pilar utama dalam kehidupan modern manusia. DX, contohnya, mencakup pembangunan infrastruktur digital, seperti pusat data, keamanan siber, dan semikonduktor.


Korea dan Indonesia dapat menjajaki kemitraan di tiga pilar itu. Masalahnya, sektor manufaktur Indonesia belum matang. Di mata Korsel, perusahaan-perusahaan Indonesia belum berani mengambil risiko untuk mengembangkan atau mengadopsi teknologi baru.


”Indonesia perlu mentransformasi sektor manufaktur tradisional menjadi lebih modern. Hal ini berguna untuk menjamin kemitraan strategis yang saling menguntungkan,” tutur Lee.

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
Logo Indo Korea Journalist Network Ver 1 - New.png

© 2026 by Foreign Policy Community of Indonesia

Sekretariat FPCI

 

Mayapada Tower 1, 19th Floor

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, 12920

 

  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter
  • LinkedIn
bottom of page