top of page

Meneropong 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Korsel: Tantangan, Peluang hingga Langkah Selanjutnya

Writer: Dita Angga Rusiana
Dita Angga Rusiana
Sep 21, 2022
4 min read
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dalam pertemuan bilateral di Seoul, Korea Selatan, Kamis (28/7/2022).(Dokumentasi/Sekretariat Presiden)
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dalam pertemuan bilateral di Seoul, Korea Selatan, Kamis (28/7/2022).(Dokumentasi/Sekretariat Presiden)

JAKARTA, KOMPAS.com – Hubungan diplomatik Indonesia dengan Korea Selatan akan memasuki tahun ke-50 pada 2023 mendatang. Kedua negara secara resmi menjalin hubungan bilateral sejak tahun 1973.


Kerja sama di berbagai sektor telah dibangun kedua negara, mulai dari kerja sama ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan.


Hubungan kedua negara pun semakin menguat dengan adanya kemitraan strategis pada Desember 2006. Bahkan saat ini kemitraan strategis sudah bergeser menjadi kemitraan khusus.


Peneliti Center for ASEAN-Indian Studies, The Institute of Foreign Affairs and National Security (IFANS), Cho Wondeuk mengatakan, Indonesia adalah satu dari tiga negara yang memiliki kemitraan khusus dengan Korea Selatan.


“Kemudian pada 2017, ketika Korea Selatan menerapkan New Southern Policy. Korea Selatan dan Indonesia meningkatkan kemitraan strategis menjadi kemitraan strategis khusus 2017,” katanya dalam Workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 2, yang digelar oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta, Jumat (26/8/2022).


Dia mengatakan, Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang memilki kemitraan khusus dengan Korea Selatan. Melalui kemitraan khusus ini, kedua negara semakin memperkuat kerja sama di bidang-bidang strategis.


“Maka pada saat itu, kedua negara memperkuat kerja sama strategis dengan membentuk saluran dialog, seperti dialog strategis tingkat wakil menteri, pertemuan 2+2 di bidang luar negeri dan pertahanan,” ungkap Cho.Menurut dia, mesranya hubungan Indonesia dan Korea Selatan juga terlihat dari kunjungan pemimpin dua negara tersebut.


“Jika dibandingkan dengan kunjungan pemimpin negara lain, Presiden Indonesia dan Presiden Korea Selatan melakukan banyak kunjungan bilateral. Jadi ada pertemuan tingkat tinggi yang kuat, interaksi tingkat pemimpin,” tuturnya.


Tantangan hubungan Jakarta-Seoul

Cho menyebutkan, pandemi Covid-19 selama 2,5 tahun terakhir telah mempercepat perubahan geopolitik dan ekonomi. Hal ini ditambah dengan persaingan antara Amerika Serikat dengan China.


“Sehingga hubungan internasional dan dunia sekarang mengalami pergeseran geopolitik dan lingkungan strategis yang dramatis. Dan mungkin menimbulkan semacam tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Cho.


Bahkan menurutnya dunia akan menjadi semakin rumit dan terpolarisasi.


“Saya sampaikan sebelumnya kita menghadapi tantangan yang sulit dan rumit. Pada disrupsi rantai pasokan, lalu jaminan kesehatan dari pandemi, bahkan nasionalisme politik dan demokrasi di dunia,” tuturnya.


Cho juga menyoroti kawasan Indo-Pasifik yang saat ini menjadi arena persaingan kekuatan. Dia mengungkapkan, dalam waktu beberapa tahun ini telah banyak krisis dan konflik di kawasan Indo-Pasifik.


“Anda telah melihat banyak ketegangan dan persaingan di Laut China Selatan. Anda telah melihat China membangun fasilitas militer kawasan Laut China Selatan dan China mengklaim kedaulatannya atas beberapa wilayah di Laut China Selatan,” katanya.


Tantangan lain yang diungkapkan Cho adalah semakin berkembangnya hubungan minilateralisme. Pada saat yang sama hubungan multilateraisme relatif mengalami penurunan. Hal ini menurutnya melemahkan pengaruh ASEAN di Indo-Pasifik.


Cho menyebutkan, Amerika Serikat dan China pun saling bersaing dalam pembentukan minilateralisme.


“Kita telah melihat minilateralisme Amerika, seperti AUKUS antara Amerika Serikat, Inggris dan Australia,” ungkapnya.


“Dalam menanggapi minilateralisme pemimpin Amerika Serikat, China baru-baru ini juga mempertimbangkan minilateralisme mereka sendiri, seperti BRI (Belt dan Road Initiative),” lanjutnya.


Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI), Muhammad Takdir, mengatakan, pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina menjadi tantangan tersendiri bagi hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan.


“Perang di Ukraina telah memberikan kita beberapa quadrilateral shock, mulai dari meningkatnya harga pangan, harga minyak mentah, biaya pengiriman dan juga obligasi negara berkembang,” kata Takdir.


Takdir juga menyoroti kondisi Indo-Pasifik yang menjadi ajang persaingan Amerika Serikat-China, mulai dari Semenanjung Korea, Selat Taiwan dan Laut China Selatan.


“Ada tiga titik tempat yang sangat kita khawatirkan dari perspektif Indonesia dan Asia dalam konteks Indo-Pasifik. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketiga flash point tersebut dipengaruhi oleh rivalitas Amerika Serikat-China,” jelasnya.


Peluang Indonesia-Korea Selatan sebagai “middle power countries”

Cho mengungkapkan, Indonesia dan Korea Selatan sebagai negara kekuatan menengah atau middle power countries cukup kompetitif dalam beberapa isu dan agenda di tataran global. Bahkan negara kekuatan menengah bisa membentuk sebuah jaringan dengan negara kekuatan kecil untuk menghadapi tantangan global saat ini.


“Jadi Indonesia, Korea, Australia, negara-negara kekuatan menengah dan bahkan negara-negara kecil seperti Singapura, dan negara-negara lain relatif kompetitif dalam beberapa isu dan agenda tertentu,” ungkapnya.


Cho menilai perlunya peningkatan kerja sama di antara negara kekuatan menengah dan kecil di Indo-Pasifik.


“Saya kira perlu ada dorongan yang kuat untuk meningkatkan kerja sama di antara negara-negara kecil dan menengah di Indo-Pasifik, khususnya antara Korea Selatan dan Indonesia,” katanya.


Sementara itu, Takdir melihat peluang-peluang di bidang ekonomi saat ini. Menurutnya, saat ini, Indonesia terus mengembangkan hubungan perdagangan dan investasi, salah satunya Indonesia-Korea CEPA.


“Hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi perdagangan dan investasi di kawasan tersebut. Lalu ada RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang akan menjadi kesepakatan perdagangan dan investasi, ketiga terbesar dengan 15 anggota. Jadi itu pertanda baik sebenarnya,” ujarnya.


Setelah 50 tahun

Pada 50 tahun hubungan diplomatik, Indonesia-Korea perlu memperhatikan situasi di kawasan Indo-Pasifik. Cho menilai, kedua negara perlu saling berbagai visi terkait Indo-Pasifik.


“Jadi kita perlu berbagi visi dan kepentingan strategis di Indo-Pasifik. Kita perlu meningkatkan dialog strategis bilateral antara Indonesia-Korea dan pada saat yang sama kita perlu berkolaborasi dalam platform ASEAN,” katanya.


Dia mengatakan, Indonesia dan Korea sama-sama berpartisipasi dalam berbagai kerja sama multilateral sehingga kedua negara dapat berkolaborasi untuk menghadapi tantangan global.


Selain itu, dalam konteks kerja sama bilateral juga perlu ditingkatkan secara bertahap.


“Jadi kita perlu memiliki banyak pertukaran, pertukaran strategi untuk 50 tahun ke depan. Perlu juga mempertimbangkan untuk membangun kerja sama militer antara Korea, Indonesia dan pihak ketiga dalam bidang keamanan,” ungkapnya.


Tak hanya itu, kerja sama negara kekuatan menengah di kawasan Indo-Pasifik juga perlu dibentuk.


“Maka untuk meningkatkan kerja sama antara kekuatan menengah di dalam Indo-Pasifik, kita perlu membuat beberapa platform yang berbeda. Anda tahu, seperti yang saya katakan di sini KIA antara Korea-Indonesia-Australia,” kata dia.


Lebih lanjut, Cho menekankan bahwa kedua negara memiliki kesempatan yang sangat besar dalam meningkatkan hubungan diplomatik untuk 50 tahun ke depan.


“Kita bisa menjadikan tahun depan sebagai titik balik kerja sama kedua negara. Jadi kedua negara perlu memiliki semacam komitmen untuk menarik kemitraan strategis 50 tahun mendatang,” pungkasnya.










 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
Logo Indo Korea Journalist Network Ver 1 - New.png

© 2026 by Foreign Policy Community of Indonesia

​

Sekretariat FPCI

 

Mayapada Tower 1, 19th Floor

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, 12920

 

  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter
  • LinkedIn
bottom of page