Melihat Manfaat dan Potensi Pasar KF-21 Boramae yang Dikembangkan RI dan Korsel


Pengembangan pesawat jet tempur KF-21/IF-21 Boramae masih berjalan. Diyakini penerbangan perdana pesawat kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dapat berdampak positif bagi industri pertahanan Indonesia.
Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Korea sudah berjalan cukup lama. Sekjen Kemhan periode 2010-2013 Marsekal (Purn) Eris Heryanto mengatakan, kerja sama pertahanan kedua negara menjadi penting karena akan menopang perekonomian negara.
“Kita mengadakan peralatan-peralatan persenjataan dari Korea Selatan dalam bentuk panser tarantula untuk TNI AD, kapal selam Changbogo Class untuk TNI AL sebanyak tiga [unit[, lalu membeli pesawat latih tempur T50i Golden Eagle. Ini pesawat latih sebagai loncatan sebelum masuk ke pesawat tempur yang lebih advance. Mengadakan pesawat latih ringan KT1-B untuk TNI AU yang sering digunakan untuk Jupiter, dan terakhir pengadaan kapal cepat rudal KRI Mandau,” kata Eris dalam workshop Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk ‘11 Years and Counting: Assessing Indonesia-Korea Defense Cooperation’ di Bengkel Diplomasi FPCI, Jakarta, Selasa (11/10).
Berdasarkan data tersebut, Eris menggarisbawahi bahwa Indonesia adalah negara pertama yang membeli kapal selam Changbogo Class, pesawat latih tempur T50i, dan pesawat latih ringan KT1-B. Sementara Korea membeli sembilan unit pesawat CN-235 untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Angkatan Laut Republik Korea (KCG).
“Kalau kita bandingkan tentunya tidak seimbang karena kita masih belum unggul dalam memproduksi peralatan-peralatan alutsista kita,” ujarnya.

Dengan pengembangan KF-21 Boramae bersama Korea, diharapkan Indonesia ke depan mampu menguasai teknologi kunci pesawat tempur generasi 4,5. Selain itu, Indonesia diharapkan dapat membuat pesawat angkut ringan untuk pertahanan negara ke depan.
“Kemudian kemampuan produksi, kita menginginkan jadi supplier bagi komponen pesawat KFX/IFX. Sesuai undang-undang, kita harusnya dalam melakukan operasional terhadap pesawat mampu melakukan MRO (Maintenance, Repair, Operation) dan juga kita mengharapkan mampu bisa memodifikasi dan upgrade pesawat yang kita kerjakan bersama,” ujarnya.
Saat ini, pengembangan KF-21 Boramae berada dalam tahap pengembangan prototipe. Proses ini berjalan sejak 2016 dan direncanakan akan berlangsung hingga 2026.
Dalam proses ini, kedua negara akan melakukan analisa dan desain mesin, prototipe, dan uji coba terbang dan sertifikasi. Uji coba terbang KF-21 Boramae pun sudah sukses dilakukan pada 28 September 2022 dan dihadiri langsung Wamenhan Muhammad Herindra, Menhan Korea Lee Jong-sup, dan Menteri DAPA (Defense Acquisition Program Administration) Eom Dong-hwan.
“Sementara engineering manufacturing kita bikin desain, ada enam prototipe dan satu prototipe akan diserahkan ke Indonesia untuk flight test dan sertifikasi. Tahap produksi dilakukan komponen manufakturing dan final assembly. Final assembly diharapkan dilakukan di Indonesia dan Korea,” lanjutnya.
Anggaran untuk pengembangan KF-21 Boramae terbilang cukup besar. 8 miliar won atau setara Rp 24,8 triliun dikucurkan untuk proyek ini, di mana Indonesia akan membayar pendanaan sebesar 20%. Eris mengungkapkan berdasarkan studi yang dibuat sejumlah institusi, potensi pasar untuk Indonesia cukup tinggi.
“Ada kurang lebih 4 institusi di dunia yang melakukan kajian berapa, sih, kira-kira kalau ini nanti dibuat mana saja yang akan membeli pesawat ini. Secara internal bahwa captive market antara Korea dan Indonesia 168 unit. Korea 120 unit dan Indonesia 48 unit. Kemungkinan Korea akan meningkat di 240 unit,” ungkapnya.
Sementara berdasarkan studi yang dilakukan IHS Janes, minimal market yang akan diserap dari pesawat tempur tersebut sebesar 160 unit. Marketnya pun dinilai bisa meningkat hingga 596 unit.
“Ini potensi basar yang besar. Sementara potensi medium paling tidak 160 unit dan maksimal 368. Jadi menurut saya cukup besar interest negara-negara ini untuk membeli produk Korea dan Indonesia,” tuturnya.
Kemudian dalam studi yang dilakukan SDI pada 2012, pesawat tempur KF-21 Boramae – yang sebelumnya disebut KFX/IFX – dapat diserap pasar minimal sebesar 149 unit dan maksimal 572 unit. Selanjutnya, studi TEAL Group yang dilakukan pada 2013 memperkirakan pesawat tempur tersebut dapat menyerap potensi pasar sebesar 599 unit dan bisa bertambah menjadi 869 unit.
“Kita di dalam potensi pasar yang ada itu perlu adanya strategi pemasaran pada captive market yang tentunya masing-masing negara akan membutuhkan di kemudian akhir. Untuk pasar ekspor dalam kerja sama MoU, kita akan melakukan joint marketing antara Indonesia dan Korea,” imbuhnya.
Kembali lagi kepada manfaatnya untuk pertahanan dalam negeri, Eris menekankan saat ini Indonesia masih bergantung pada pembelian dari luar untuk alutsista berteknologi tinggi. Dengan membeli dari luar, maka operational requirement akan menyesuaikan dengan pabrikan negara pembuat dan pasti ada pembatasan platform yang sudah ditentukan di negara pembuat.

“Kita membuat ini juga mempertimbangkan luas wilayah kita. Kalau kita beli, kita enggak punya kemampuan teknologi dalam barang-barang yang kita beli. Sementara kita selalu punya ketergantungan. Kalau negara pembuat mengembargo, kita akan menerima akibatnya. Dukungan suku cadang tidak akan lancar, efek deterrent terjadi tapi enggak begitu signifikan karena pasti negara-negara lain yang ingin mempertahankan,” ungkapnya.
“Harga tidak bisa kita kendalikan, sedangkan membuat kebalikannya semua kita dapat desain sesuai kemampuan kita, bebas menentukan konfigurasi, punya kemampuan teknologi untuk bisa update apabila diperlukan di masa-masa akan datang dengan perkembangan ancaman, mengurangi ketergantungan. Saya kira ini semua dapat kita pahami apabila bisa buat sendiri,” lanjutnya.
First Director General for the KFX Program Group dari Defense Acquisition Program Administration Jung Kwang-sun kemudian menjelaskan manfaat yang bisa didapat kedua negara melalui program kerja sama ini. Jung mengatakan dengan kerja sama yang memadukan teknologi dari kedua negara, Indonesia melalui KF-21 Boramae dapat memiliki platform jet tempur yang diinginkan TNI AU.
“KF-21 atau IFX merupakan jet tempur yang memiliki performa yang diinginkan oleh kedua Angkatan Udara, Indonesia dan Korea. Hal ini berarti Indonesia dapat memperbarui dan memodifikasi performance sesuai yang diinginkannya atas konsultasi dengan pemerintah Korea,” ungkap Jung.
Manfaat yang kedua adalah Indonesia akan memiliki kemampuan memproduksi, mengoperasikan, dan memelihara jet tempur melalui skema pengembangan bersama sehingga bisa memperoleh pengetahuan yang sangat singkat dibandingkan Korea.
“Yang ketiga, Indonesia akan memiliki daya saing daya saing kelas dunia di bidang industri dirgantara melalui partisipasi produksi KF-21 dan produksi IFX dalam negeri. Tentunya dengan melakukan produksi dalam negeri, tak hanya PTDI tapi banyak mitra kerjanya akan ikut menciptakan banyak lapangan kerja, dan membawa nilai tambah yang sangat besar. Di samping itu, kemajuan industri dirgantara Indonesia akan memberikan dampak positif tak hanya pada industri pertahanan itu sendiri, tapi pada sektor swasta,” jelasnya.
Mengapa demikian? Jung mengatakan dengan memiliki 17 ribu pulau dan luas 5.200 kilometer dari Sabang sampai Merauke dan 2.000 kilometer dari Pulau Mianga sampai Pulau Rote, pesawat menjadi salah satu alat transportasi yang penting.
“Industri dirgantara Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar dilihat dari karakteristik geografis dan jumlah penduduk. Di samping itu, kalangan masyarakat mengenal semakin besar dan banyak maskapai penerbangan bertarif murah melakukan ekspansi bisnis sehingga industri dirgantara Indonesia terus berkembang,” ungkapnya.
Apalagi kalau melihat laporan International Air Transport Association, Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan industri dirgantara urutan kelima setelah China, India, Amerika Serikat, dan Inggris pada 2034.
“Manfaat yang keempat berhubungan dengan pemasaran ke luar negeri. Peluang bagi Indonesia dan Korea melakukan pemasaran dan ekspor bersama KF-21 atau IFX terbuka lebar. Korea Air Space dan PTDI sepakat melakukan pembahasan untuk mendirikan joint marketing venture dan pembahasan tersebut akan dilakukan sebelum tahap produksi massal,” ujar Jung.
“Namun, saat ini belum kita mulai melakukan pembahasan, tapi kami sangat menantikan pembahasan tersebut. Diperkirakan ada tuntutan besar untuk mengganti pesawat jet tempur generasi 4 yang sudah usang dari banyaknya negara. KF-21 atau IFX menarik perhatian banyak pihak sebagai alternatif terbarunya F-15 buatan Lockheed Martin Amerika dan pesawat buatan Swedia. Korea dan Indonesia dapat bersama-sama menembus pasar ekspor tersebut,” pungkasnya.




Comments