top of page

Korea Selatan dan Bagaimana Film Menjadi ”Kartu Pengenal” Bangsa

  • Writer: Elsa Emiria Leba
    Elsa Emiria Leba
  • Dec 30, 2025
  • 3 min read

Kekuatan dunia sinema Korea Selatan terletak pada kemampuan para sutradaranya untuk menciptakan film-film orisinal dengan sentuhan segar. Bagaimana agar sinema Indonesia juga bisa mempunyai ciri khas di mata dunia?


Pada 2003, sutradara Park Chan-wook merilis film Oldboy. Film balas dendam itu bertabur kekerasan eksplisit dengan narasi yang mengejutkan. Berbeda dengan film-film Hollywood kala itu, Oldboy membuat penonton bingung karena moral para karakter yang tidak hitam-putih.


Sementara itu, sutradara Bong Joon-ho terkenal suka memadukan genre dalam film. Parasite (2019), misalnya, adalah film bergenre drama, thriller, dan komedi hitam. Emosi penonton campur aduk ketika menonton film tersebut.


Park Chan-wook dan Bong Joon-ho merupakan contoh bagaimana produksi film di Korsel lebih berpusat pada sutradara sejak awal tahun 2000-an. Sistem itu membuat para sineas bisa mengasah kemampuan bercerita sesuai karakter masing-masing.


”Kehadiran mereka menjadi inti dari keunggulan bagi sinema Korea yang unik. Sutradara ternama, seperti Bong Joon-ho, Park Chan-wook, atau Lee Chang-dong, meraih pujian kritis serta kesuksesan komersial baik di dalam maupun luar negeri,” kata Direktur Program Film Internasional di Busan Cinema Center Chun Hye-jin melalui konferensi video, Selasa (2/12/2025).


Chun menyampaikan hal tersebut dalam lokakarya jurnalis bertajuk ”Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape” di Jakarta. Lokakarya itu bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation.


Menurut Chun, sistem produksi film yang berpusat pada sutradara juga bisa diterapkan di Indonesia. Namun, sistem tersebut bergantung pada seberapa berpengaruh kontribusi sutradara tersebut terhadap perfilman di negara itu.


”Cara orang menjadi sutradara juga berbeda-beda, misalnya ada yang lewat pelatihan. Karena lingkungan yang berbeda, hasil karya mereka juga akan mendapat respons yang berbeda dari penonton. Jadi kembali ke individu masing-masing,” tutur Chun.


Namun, Chun mengingatkan, kepiawaian seorang sutradara untuk membuat film juga terkadang dipengaruhi oleh investasi. Walau sutradara itu jago, kekurangan investasi dapat membuat film itu kurang berkembang.


”Yang penting adalah para pembuat film terus membuat film baru tanpa memikirkan selera orang atau selera pasar. Selera pasar tidak selalu penting asalkan kita membuat film dengan kualitas yang setimpal,” tuturnya.


Pintu masuk

Chun melanjutkan, Festival Film Internasional Busan (BIFF) bisa menjadi titik masuk sineas Indonesia masuk ke pasar Korsel, bahkan Asia. Jika ingin menyasar pasar Korea secara khusus, Indonesia bisa memperkenalkan film lewat berbagai jejaring, misalnya Korea Foundation, ASEAN Culture House, dan kedutaan besar.


”Jika lewat festival, kita tidak perlu memikirkan selera masyarakat seperti apa. Jadi lewat festival juga bisa melahirkan sutradara-sutradara baru,” kata Chun.


Beberapa film Indonesia sebetulnya sudah berlaga atau tayang di BIFF, sebutlah Sara (2023), Women from Rote Island (2023), dan Pangku (2025). September lalu, Pangku garapan Reza Rahadian memenangi empat penghargaan, termasuk FIPRESCI Award.


Namun, menurut Chun, belum banyak film Indonesia yang tayang di Korea Selatan. Perbedaan selera antara film Indonesia dan pasar Korea menjadi salah satu hambatan.


”Namun, genre horor bisa masuk ke industri perfilman korea. Seperti Thailand, film-film dari negeri itu terkenal dengan genre boys’ love (BL) atau romance. Indonesia mungkin bisa membuat film horor sebagai tema sinema sebagai titik awal agar orang-orang tertarik mengenal film-film Indonesia lain yang tak kalah seru,” kata Chun.


Chief Marketing Officer CGV Indonesia Ssun Kim menambahkan, film-film Indonesia sebetulnya telah menunjukkan peningkatan kualitas dari tahun ke tahun. Namun, jika ingin menayangkan film ke luar negeri, para sutradara juga perlu memikirkan agar teks terjemahan (subtitle) di film mampu menyampaikan emosi kepada penonton.


”Film-film tersebut harus menggunakan subtitle yang tepat. Di Korea, contohnya, bahasa Indonesia belum familiar ketimbang bahasa Inggris atau Jepang,” ujar Kim.

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
Logo Indo Korea Journalist Network Ver 1 - New.png

© 2026 by Foreign Policy Community of Indonesia

Sekretariat FPCI

 

Mayapada Tower 1, 19th Floor

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, 12920

 

  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter
  • LinkedIn
bottom of page