IK-CEPA Sudah Disahkan, Bagaimana Masa Depan Perdagangan Indonesia-Korsel?


DPR RI akhirnya mengesahkan UU Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership dan UU Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). IK-CEPA akhirnya bisa disahkan setelah melalui proses negosiasi yang panjang selama bertahun-tahun, dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Presiden Jokowi.
Perundingan IK-CEPA dimulai pada Oktober 2011. Perundingan pun berjalan selama 7 kali mulai dari 2012-2014 sepanjang pemerintahan SBY. Perundingan kemudian ditunda selama 2014-2018 ketika Jokowi mengambil alih pemerintahan.
Perundingan akhirnya dilanjutkan pada 19 Februari 2019 dan finalisasi perundingan dilakukan pada 26 November 2020. Penandatanganan dilakukan pada 18 Desember 2020 dan ratifikasi oleh DPR dilakukan pada 30 Agustus 2022.
Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini, mengungkapkan masih butuh waktu hingga akhirnya IK-CEPA dapat diimplementasikan pada Januari 2023. Meski demikian, Marthini optimistis banyak keuntungan yang bisa didapatkan Indonesia melalui pengesahan IK-CEPA dalam Rapat Paripurna DPR ke-3 Masa Persidangan I Tahun 2022-2023 pada 30 Agustus 2022 lalu.
“Saya rasa Korea menginginkan peran yang menonjol di ASEAN. Jadi Indonesia, tentu saja sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN merupakan rekan penting untuk Korea. Itulah mengapa kita ingin dekat dengan Korea,” kata Marthini dalam workshop kedua Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diinisiasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk ‘The Next Chapter of Indonesia-Korea Economic Cooperation: Tracking the Progress of IK-CEPA’, Senin (19/9).

Jika melihat kegiatan perdagangan selama Januari-Juli 2022, negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah China, Amerika Serikat, India, Jepang dan Malaysia, dengan Korsel berada di posisi ketujuh. Sementara negara tujuan ekspor utama Korsel adalah China, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Arab Saudi, dan Indonesia berada di posisi kesebelas.
Indonesia lebih banyak mengekspor barang mentah yang berasal dari sumber daya alam seperti minyak kelapa sawit (26,6 miliar dolar AS), batu bara (26,5 miliar dolar AS), gas minyak bumi (7,4 miliar dolar AS), dan besi (7,1 miliar dolar AS). Sementara Korsel mengekspor sirkuit terpadu elektronik (52,3 miliar dolar AS), medium oils (17,8 miliar dolar AS), kendaraan bermotor (15,3 miliar dolar AS), dan suku cadang dan aksesoris mesin pengolah data (13,2 miliar dolar AS).
Sementara untuk kegiatan perdagangan Indonesia-Korsel selama Januari-Juli 2022, tercatat produk utama yang diekspor ke Korsel di antaranya batu bara 24.02%, bijih tembaga dan konsentratnya 14,71%, ammonia 5,09%, minyak sayur 3,88%, dan aplikasi penerimaan untuk televisi 3,81%.
Untuk neraca perdagangan kedua negara selama Januari-Juli 2022, ekspor barang non minyak dan gas sebesar 6,5 miliar dolar AS, meningkat 51,49% Year over Year (YoY). Sementara impor non minyak dan gas sebesar 5,8 miliar dolar AS, meningkat 15,27% YoY.
Marthini menjelaskan, Korsel melihat Indonesia sebagai rekan yang strategis karena Indonesia merupakan negara keempat dengan penduduk terbesar dan urutan ke-16 ekonomi terbesar di dunia – yang akan segera menjadi urutan ke-4 di di 2030.

“Tapi kita juga melihat apa yang disebut soft diplomacy, drama populer Korea, itu ada di sana dan orang Indonesia mengenal Korea lebih dalam lewat soft diplomacy tersebut dan begitu pula sebaliknya. Lalu ada K-Pop, drama Korea yang membuat kita lebih memahami Korea,” tuturnya.
Sementara untuk Indonesia, IK-CEPA menawarkan kesempatan yang lebih besar dari ASEAN-Korean Free Trade Area (AKFTA). Di antaranya karena Korsel merupakan mitra terpenting Indonesia, dapat meningkatkan pangsa Indonesia di pasar Korsel, dan menyelaraskan posisi dengan pesaing dari ASEAN.
Marthini mengatakan dengan pengesahan IK-CEPA, Indonesia dan Korsel memasuki era baru dalam hubungan bilateral. Meski hubungan bilateral kedua negara sudah dimulai sejak 1973, namun kerja sama yang dilakukan selama ini masih belum menyentuh aspek-aspek yang penting dan strategis.
“Basisnya adalah apa yang kita tidak punya di regional tapi dimiliki di bilateral. Tarifnya [perdagangan] belum nol. Dalam kerja sama ekonomi, Indonesia-Korea menjadi penting. Indonesia negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN. Pangsa ekspor Indonesia tinggi, meski belum terlalu tinggi tapi bertahap akan mengisi di pasar Korea,” ujarnya.
Marthini mengatakan, saat ini Indonesia ingin membuat model perdagangan baru lewat kerja sama ekonomi. Sebab, selama ini Indonesia melakukan kerja sama dengan negara yang lebih maju. Namun menurutnya, yang penting adalah bagaimana kerja sama yang terjalin membuat Indonesia dapat mengejar negara yang bersangkutan – dalam hal ini Korsel, dalam berbagai aspek.
“Bagaimana kita bisa bekerja bersama supaya produk Indonesia bisa diterima pasar di Korea dan konsumer Korea ingin memiliki produk ini dan merasa produk tersebut aman dan sebagainya. Supaya pasa Korea berpikir produk Indonesia semuanya bagus karena sering menyesuaikan dengan persyaratan di Korea dan sebaliknya. Jadi ini menjadi penting,” ungkapnya.
Dalam perspektif Indonesia, lanjut Marthini, Indonesia ingin menjadi regional hub untuk Korea dan begitu pula sebaliknya. Marthini pun mencontohkan bidang otomotif dan produk elektronik yang merupakan pasar terbesar Korsel.
“Mengapa saya katakan demikian karena produk otomotif Korea sangat besar tapi pasarnya sangat terbatas. Mereka membutuhkan pasar global. Sehingga jika Korea berinvestasi di Indonesia dan membuat Indonesia sebagai industrial hub, itu [produk Korea] dapat dikirim ke seluruh dunia. Artinya Korea membutuhkan kita dan kita membutuhkan Korea untuk investasi,” ungkapnya.
“Ini juga karena Indonesia ingin menjadi pemain dunia di industri otomotif. Anda dapat melihat ekspor otomotif kita akhir-akhir ini meningkat,” lanjutnya.
Untuk itulah, Marthini menilai Indonesia dan Korsel harus tumbuh kuat bersama dalam era baru hubungan bilateral ini. Sebab, kedua negara saling membutuhkan.
“Kita punya sumber daya alam, konsumen, dan demokrasi. Korea mempunyai technological power house tapi pasarnya kecil dan tidak ada sumber daya alam di Korea. Sehingga [yang penting] bagaimana hubungan kerja sama ini membawa kedua negara ke arah sana,” pungkasnya.




Comments