Hallyu dan Kebebasan Berekspresi
- Nina Susilo

- Dec 21, 2024
- 3 min read

Gelombang Korean Pop atau K-Pop tak tertahankan. Semua negara mendapati masuknya beragam produk hiburan asal Korea Selatan. Indonesia, apalagi. Hampir semua jenama populer menggunakan artis Korea sebagai model. BTS Army, sebutan untuk fans grup musik BTS, yang terbanyak pun berasal dari Indonesia.
Kandidat PhD Harvard University, Gangsim Eom, menceritakan keterpanaannya dengan pengenalan orang Indonesia pada K-Pop. Jangankan anak-anak sekolah atau mahasiswa, sopir taksi pun mengenal artis korea, drama korea, atau beberapa kata sederhana dalam bahasa korea.
Kalau Korean Wave (K-Wave) atau disebut juga Hallyu dimulai di Indonesia sekitar 2009 dengan konser musisi Rain, kata Gangsim Eom yang lebih akrab dipanggil Simi, sekarang semua artis K-Pop hampir pasti konser di Indonesia.
Tak hanya itu, fandom politik juga muncul. Model penyamaan potret Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berbaju tentara dengan Song Jong-ki dalam kostum tentara di serial Descendent of the Sun sempat muncul di media sosial. Istri AHY, Annisa Pohan juga pernah menyejajarkan foto suaminya itu dengan Hyun Bin dalam kostum tentara Korea Utara di serial Crash Landing on You.
Namun, hubungan antara masyarakat Indonesia dan Korea, menurut Simi, bukan hanya terbentuk dari budaya populer. Ada pula interaksi yang sudah berlangsung lama, seperti pertukaran pelajar dan mahasiswa, pengenalan makanan Korea oleh ibu-ibu Korea, dan lainnya. ”Jadi, kepercayaan itu diraih, bukan diberikan,” ujar Simi dalam workshop bertema ”Building Stronger Ties: Indonesia-Korea Collaboration through People to People Connection”, di Jakarta, Senin (9/12/2024).
Acara diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation untuk program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea. Hadir pula sebagai pembicara dalam acara ini Pelaksana Tugas Deputi Ekonomi Digital dan Produk Kreatif di Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam.
Mendorong Indonesian Wave
Indonesian Wave pun mulai muncul di Korea Selatan sejak diselenggarakan Festival Indonesia di tahun 2019. Masyarakat Korea mulai mencoba mengenakan sarung, mencicip masakan Indonesia, dan mengenal budaya Indonesia.
Namun, penetrasi budaya Indonesia ke Korea jelas masih jauh ketimbang penetrasi K-Pop di Indonesia. Dalam survei yang dikerjakan Simi terhadap masyarakat Indonesia tahun 2024 ini, dia mendapati 53,5 persen orang Indonesia merasa tidak asing sama sekali dengan budaya Korea. Sebaliknya, 27,2 persen orang Indonesia mengaku masih merasa cukup asing dengan budaya-budaya Indonesia yang relatif jauh, ketimbang budaya Korea.
Karena itu, penguatan budaya Indonesia sendiri menjadi penting, terutama di negeri sendiri dan berikutnya ke luar negeri. Selain itu, menurut Simi, kebebasan berekspresi tak bisa dikekang apabila pemerintah serius ingin mengembangkan budaya populer. Tak bisa pula terlampau sensitif dengan segala sensor.
Dengan kebebasan berekspresi itu, berbagai isu sensitif bisa dibahas atau disuarakan dalam drama korea (drakor), demikian pula dalam musik-musik populer yang dibawakan kelompok-kelompok musik Korea. Korupsi polisi, politisi, hingga beragam pejabat negara lain tampil dalam drama Korea, sebut saja serial Good Detective (2020), My Fellow Citizen (2019), atau Vincenzo (2021).
”Untuk mengembangkan budaya pop, kebebasan berekspresi sangat penting,” ujar Simi yang juga visiting scholar di Departement Antropologi Universitas Indonesia.
Sedemikian dekatnya budaya populer Korea dengan masyarakat, unjuk rasa untuk memakzulkan Presiden Yoon Suk Yeol yang gagal menerapkan darurat militer pun menggunakan lagu-lagu pop milik Girl’s Generation atau SNSD. Anak-anak muda pun turun ke jalan, beraksi damai secara terorganisasi sejak awal Desember 2014. Tak hanya itu, lagu-lagu K-Pop lain seperti ”Whiplash” milik Aespa, ”Crooked” milik G-Dragon, dan ”I Am the Best” milik 2NE1, ”APT” yang dipopulerkan Rose, serta ”Fighting” milik Seventeen juga dinyanyikan.
Namun, sebaliknya di Indonesia, kebebasan berekspresi ini malah terasa diberangus. Pekan ini pameran lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional saja ditunda sampai waktu yang tak ditentukan. Alasannya, komunikasi dengan kurator perlu diperbaiki. Sebelumnya, kurator meminta beberapa lukisan Yos diturunkan dari pameran karena dianggap terlalu vulgar, sementara Yos menolak permintaan itu.
Tak hanya kebebasan berekspresi, mendekatkan karya budaya populer dengan kata-kata atau ekspresi dalam bahasa Inggris seperti dilakukan di lagu-lagu Korea pun dinilai penting juga dalam meraih audiens yang lebih luas. Langkah ini, menurut Simi, seharusnya lebih mudah dilakukan di Indonesia. Sebab, kemauan masyarakat Indonesia berbahasa Inggris terasa lebih tinggi ketimbang masyarakat Korea.
Di sisi lain, pengenalan mengenai Korea juga dilakukan efektif oleh pemengaruh Korea yang tinggal di Indonesia atau berbahasa Indonesia. Beberapa warga Indonesia yang bersekolah atau tinggal di Korea pun berkontribusi dalam mengenalkan budaya Korea ke masyarakat Indonesia.
Sebaliknya, pemengaruh Indonesia atau Korea yang mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat Korea dinilai masih sangat kurang. Kendati engagement rate setiap pemengaruh berbeda-beda, menurut Simi, pengenalan oleh pemengaruh juga efektif dan penting untuk membangun kepercayaan.
Neil pun mengakui, mungkin diperlukan anggaran khusus untuk pemengaruh Indonesia membuat konten soal Indonesia dalam bahasa korea. Masalahnya, saat ini belum ada alokasi anggaran untuk itu.
Dia menambahkan, selain hubungan resiprokal antara Korea dan Indonesia perlu seimbang, perlu ada pula dampak kuat warganet Indonesia pada industri kreatif.
Tokoh-tokoh yang kuat di media sosial pun perlu dimanfaatkan dalam mendorong pengenalan Indonesia ke Korea Selatan. Namun, tanpa kebebasan berekspresi tentu akan sulit mengembangkan budaya populer Indonesia baik untuk negeri sendiri apalagi untuk ke luar negeri.




Comments