top of page

Diplomasi Digital dan Intimasi Indonesia-Korea Selatan

  • Writer: Wahyunanda Kusuma
    Wahyunanda Kusuma
  • Dec 16, 2024
  • 4 min read

KOMPAS.com - Hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan, khususnya bidang kebudayaan, tak lepas dari pengaruh pengguna internet alias warganet di Tanah Air.


Sebab, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta, salah satu yang terbesar di dunia.


Di sisi lain, kemajuan teknologi, khususnya internet dan alat komunikasi, turut memengaruhi tata pergaulan internasional. Salah satunya dimanifestasikan dalam diplomasi digital.


Singkatnya, diplomasi digital adalah siasat baru berdiplomasi mengandalkan internet dan perangkat digital yang kini dimiliki hampir semua orang di Bumi.


Humphrey Wangke, dalam bukunya Diplomasi Digital dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia mengatakan, diplomasi digital adalah pergeseran praktik diplomatik yang menempatkan dan menekankan pada percakapan dengan penduduk asing.


Platform media sosial menjadi salah satu arena untuk membangun percakapan lintas negara itu. Nah, di sinilah diplomasi digital yang dilakukan antar-perorangan (people-to-people) terjadi.


Banyak penggemar budaya pop Korea atau K-waves alias Hallyu, mengonsumsi konten sekaligus berinteraksi dengan fandom—sebutan untuk penggemar—dari negara lain di platfom media sosial.


Konsumsi konten Hallyu oleh warganet di Indonesia ini memengaruhi persepsi positif terhadap Korea Selatan.


"Persepsi positif secara keseluruhan, (Korea dinilai sebagai negara dengan) kemajuan ekonomi, mitra favorit Indonesia, dan bertanggung jawab secara sosial di seluruh dunia" jelas Gangsim Eom, kandidat PhD Harvard University dan Peniliti Tamu di Universitas Indonesia.


Wanita asal Korea Selatan yang akrab disapa Simi itu hadir sebagai salah satu panelis di acara workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, awal Desember lalu.


Workshop ini diselenggarakan oleh Korea Foundation yang bekerja sama dengan FPCI.


Senada dengan Simi, laporan dari Korean Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE) berjudul Global Hallyu Trends 2022 menyebutkan, Indonesia memiliki 2,26 juta anggota komunitas K-Pop.


Hal itu membuat Indonesia menjadi negara kedua dengan penggemar K-Pop terbesar di Asia Tenggara.


Para penggemar kerap membuat dan menjalankan komunitas mereka sendiri sesuai selebriti atau konten yang mereka sukai. Di sini, mereka juga saling bertukar informasi tentang dunia K-Pop.


Mereka memainkan peran penting untuk mempromosikan kebudayaan Korea di Indonesia, baik dengan jalur online/virtual atau luring.


Adapun konten Hallyu yang masuk dalam laporan ini bermacam-macam. Mulai dari Drama Korea (drakor), produk kecantikan (skin care dan kosmetik), program hiburan, musik, fesyen, dan film.


Drakor menempati urutan konten K-Pop yang paling banyak diminati pada 2022. Dalam survei salah satu platform over-the-top, 74 persen pengguna mereka tertarik dengan drakor.


Kemudian, dari sektor musik, girl group Secret Number juga populer. Sebab, salah satu membernya, yakni Dita Karang, merupakan orang Indonesia.


Makanan khas Korea juga semakin menjadi tren di Indonesia. Bahkan, makanan ini mudah dijumpai di minimarket.


Beberapa restoran Korea juga jamak dibuka di Indonesia, mulai dari yang biasa hingga elegan, yang menawarkan fine dinning.


Hal ini menunjukkan cakupan pilihan makanan Korea di Indonesia cukup beragam, dari yang mudah dijangkau dengan harga murah, hingga yang elite.


Lantaran diplomasi digital yang dilakukan perorangan ini berdampak positif, Simi mengusulkan agar dibentuk konsultan, yang memetakan data konten tentang Korea, khususnya K-Pop yang diunggah para kreator konten di Asia Tenggara.


"Konten adalah data. Jadi, konten itu bisa dimanfaatkan Pemerintah Korea untuk memahami pereferensi masyarakat Asia Tenggara tentang budaya Korea. Dari sini, mereka bisa menentukan dukungan atau soft power yang hendak digunakan," kata Simi.


Data itu kemudian bisa disebarluaskan dan diakses oleh anak-anak muda di Asia Tenggara, baik yang tertarik maupun belum berminat menilisik budaya Korea.


"Anak muda bisa belajar dan mengakses data tersebut. Mereka bisa memikirkan bagaimana cara memanfaatkan data itu lalu mengemasnya dalam konten di negara mereka, lalu menjadi konten yang mudah dijangkau pemirsa global," kata Simi.


Harapannya, program ini bisa menjadi pintu masuk untuk digital literacy lalu memanfaatkan tools AI, metaverse, atau apa pun," imbuhnya.


Nah, dengan konten yang dibagikan oleh kreator Asia Tenggara tadi, diharapkan warga Korea, khususnya agensi, bisa menaruh perhatian langsung secara personal.


Sebetulnya, saat ini Pemerintah Korea Selatan sudah memfasilitasi dan mendukung digital diplomacy, salah satunya lewat Korea Creative Content Agency (KOCCA).


KOCCA merupakan agensi yang terafiliasi dengan Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan. Badan yang berkantor pusat di Kota Naju, Provinsi Jeolla bagian selatan, ini bertujuan untuk mengembangkan pasar di Asia Tenggara.


Simi mengatakan, KOCCA turut membantu kreator di Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk memproduksi konten tentang budaya Korea. KOCCA juga disebut bisa membantu mengamplifikasi konten dari kreator agar lebih luas jangkauannya.


"Semua orang, katakanlah termasuk nano influencer, mereka pasti belum punya followers (pengikut) yang besar, kan? Jadi, mereka bisa muncul dengan lansekap yang lebih luas dibanding platform media konvensional," jelas Simi.


Belajar dari Korea

Kebudayaan Korea di Indonesia memang seolah masif dan menjalar ke berbagai lapisan masyarakat dan latar belakang. Kendati demikian, menurut Simi, sejak beberapa tahun lalu, kebudayaan Indonesia juga perlahan sudah diperkenalkan di Korea. Misalnya saja lewat acara festival budaya dan pertunjukan seni. Meskipun begitu, masih butuh upaya ekstra untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia di Korea agar bisa berimbang.


Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam yang hadir dalam acara yang sama, tak menampik bahwa Indonesia perlu belajar dari Korea dalam mempromosikan kebudayaannya.


"Mereka (Pemerintah Korea) doing something right (melakukan hal yang tepat), dari sisi diplomasi kebudayaan. Jadi kita yang mungkin perlu belajar," kata Neil.


Saat ditanya apakah ada anggaran khusus untuk mendorong influencer asal Indonesia, membawa misi memperkenalkan budaya Indonesia ke Korea, Neil cukup sepakat.


"Harusnya si itu cara ngiklan yang efektif. Media sosial, kreator konten individu ini sebetulnya luar biasa," katanya.


Ia mengatakan, hal ini bisa menjadi terobosan untuk Kementerian Pariwisata dalam promosi kebudayaan Indonesia secara digital.

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
Logo Indo Korea Journalist Network Ver 1 - New.png

© 2026 by Foreign Policy Community of Indonesia

Sekretariat FPCI

 

Mayapada Tower 1, 19th Floor

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, 12920

 

  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter
  • LinkedIn
bottom of page